Implementasi Software MyERP Plus di Pabrik Rokok

Pada umumnya, tahapan model bisnis di pabrik rokok meliputi pengadaan bahan baku (purchasing), pencampuran bahan baku, pembentukan bahan baku menjadi rokok bentuk batang, pengemasan rokok, sampai produk rokok tersebut siap untuk dipasarkan (production), pengiriman ke distributor rokok (sales & distribution), dan tahap terakhir pencatatan keuangan dari seluruh proses operasional pabrik rokok (finance & accounting).

Tahap awal disebut pengadaan bahan baku, bagian gudang bahan baku akan meminta bahan-bahan yang diperlukan kepada supplier, bahan baku rokok yang dimaksud seperti tembakau, cengkeh, ramuan, filter, ambri, etiket dan bahan lain yang sesuai dengan kebutuhan pabrik rokok tersebut.

Tahap selanjutnya yaitu proses produksi rokok. Jika pemesanan bahan baku dari supplier telah sampai di gudang pabrik rokok, maka bahan baku rokok siap diproduksi. Tahap produksi yang dilakukan seperti pengeringan tembakau dan cengkeh, pencampuran tembakau, cengkeh, dan ramuan, pembentukan bahan menjadi rokok bentuk batang, pengemasan, sampai dengan produk tersebut siap untuk dipasarkan. Setelah proses produksi rokok bentuk batang, proses selanjutnya yaitu pengemasan rokok dalam bentuk pack, slop dan karton. Jika proses pengemasan rokok dalam bentuk karton telah selesai, rokok – rokok tersebut siap dikirim ke distributor rokok.

Pembelian (Purchasing)

Sebelum dilakukannya proses produksi rokok, bagian gudang produksi melakukan permintaan bahan baku ke bagian pengadaan barang untuk dilakukan order ke supplier. Bagian gudang pengadaan bahan baku melakukan order barang ke supplier dengan mendata detail barang apa saja yang dipesan. Jika barang yang dipesan tersebut telah sampai di gudang pengadaan bahan baku pabrik, bahan-bahan tersebut akan dimutasi ke gudang produksi untuk dilakukan proses produksi selanjutnya.
Jika invoice pembelian dari transaksi order bahan dilakukan secara kredit, maka akan mengakibatkan bertambahnya hutang perusahaan pada supplier. Hutang invoice order bahan baku tersebut akan dibayar berdasarkan termin – termin pembayaran yang sudah disepakati sebelumnya.

Produksi (Production)

Proses produksi awal pembuatan rokok dimulai dengan penyusunan Tembakau Siap Giling (TSG) dengan Ambri (kertas pembungkus rokok) menjadi rokok dalam bentuk batang/linting. Rokok batangan tersebut diproses kembali menjadi rokok dalam kemasan pack dan slop yang disebut dengan rokok setengah jadi atau WIP (Work In Progress). Kemudian rokok WIP tersebut dikemas menjadi rokok dalam bentuk karton/box atau disebut dengan bahan jadi siap jual.

Penjelasan detail tentang proses produksi rokok tersebut, sebagai berikut :

ROKOK ABC BTG (Proses Produksi Rokok Batang)
Bahan – bahan penyusun rokok ABC BTG :
1. Tembakau Siap Giling (TSG)
2. Cengkeh
3. Ramuan
4. Filter
5. Ambri (kertas rokok)
6. Jasa Linting
Bahan penyusun tersebut diproduksi menjadi rokok-rokok batangan. Kemudian rokok batangan diproduksi kembali menjadi rokok dalam bentuk PACK dan SLOP yang disebut dengan Work In Progress (WIP) atau rokok setengah jadi.

WIP ROKOK ABC (Proses Pengemasan Rokok dalam bentuk PACK dan SLOP)
Bahan – bahan penyusun untuk rokok WIP :
1. Rokok ABC BTG
2. Etiket Inner Rokok ABC
3. Etiket Outer Rokok ABC
4. Cukai
5. Pita Kuning
6. Plastik OPP
7. SLOP
8. Jasa Packing (sudah termasuk jasa lipat)
Setiap 12 rokok batang dikemas dengan etiket inner, etiket outer, cukai, pita kuning, dan plastik OPP. Setelah dikemas dalam bentuk pack, setiap 10 Pack rokok ABC tersebut dikemas menjadi rokok dalam bentuk SLOP. Proses ini disebut dengan proses WIP Rokok ABC Setengah Jadi.

BJ ROKOK ABC (Proses Pengemasan Rokok dalam bentuk KARTON/BOX)
Bahan – bahan penyusun untuk Rokok BJ :
1. WIP Rokok ABC
2. Plasitk OPP SLOP
3. Box
4. Jasa Packing (sudah termasuk jasa lipat)
Setelah rokok dikemas dalam bentuk slop, rokok tersebut dikemas kembali menggunakan BOX yang disebut dengan Rokok Bahan Jadi (BJ). Setiap box berisi 20 Slop Rokok yang siap dipasarkan.

Penjualan (Sales & Distribution)

Proses penjualan atau pendistribusian rokok di pabrik dilakukan dengan pemesanan barang dari sales ke gudang atau pabrik terlebih dahulu, dari pemesanan tersebut gudang melakukan pengeluaran barang dan laporan invoice untuk dikirimkan ke distibutor – distributor yang memesan.

Jika invoice penjualan dari pemesanan barang dilakukan secara kredit, maka akan mengakibatkan bertambahnya piutang customer (distributor) pada perusahaan, hutang invoice penjualan tersebut akan dibayar berdasarkan termin – termin pembayaran yang telah disepakati sebelumnya.